Jumat, 05 Januari 2018

LULUK DARMAWAN



                   Kultur Religius
      LULUK Darmawan, 42, sebelumnya tidaklah sereligius sekarang dalam menjalani kehidupannya. Perubahan itu terjadi beberapa tahun belakangan, setelah beragam sengkarut kehidupan menjeratnya.

            Lantas, dia mulai berkenalan dengan pola-pola spiritual sebagai bagian integral dalam mengikhtiari penyelesaian ragam masalah dan tujuan hidup. Luluk sendiri lebih gemar mengistilahi metode tersebut dengan pendekatan otak kanan.

            Setelah dengan ajek menerapkan pendekatan otak kanan, betapa kemudian dia menemukan banyak keluwesan dan menapaki dan melampaui dinamika kehidupan.

          
  Dia yakin betul, tangan Tuhan akan menggamitnya selama ikhtiar lahirnya di padupadankan dengan ikhtiar batin. “Sedekah dan solat tepat waktu secara rutin menjadi dua dari beberapa amalan yang memiliki power luar biasa,” ujarnya.

            Berawal dari tiga tahun silam saat hidup nya merosot hingga ke titik bawah, lantas membuat nya kepentok kerasnya lantai kehidupan. Namun, sebagaimana yang Tuhan janjikan, bahwa setiap permasalahan selalu datang Satu paket dengan solusinya. Senyampang mau berusaha, jalan keluar bakal tersibak.

            Perjalanan waktu menggiringnya berkenalan dengan banyak kiat penyesalan masalah berpendekatan spiritual. Berangsur-angsur, wawasan baru tersebut mulai masuk ke dalam pemahaman nya. Salah satunya konsep sedekah yang mampu memudahkan distribusi rezeki dan pertolongan dari Tuhan.

            Dia kemudian begitu yakin jika dalam perkara rezeki, hitung-hitungan konvensional tidak lebih dari speudo-matematis. Bahkan pada hakikat nya, harta yang di sedekahkan bukan berkurang jumlahnya, akan tetapi justru bertambah berlipat-lipat.

            Hal ini baginya lebih dari sekadar keyakinan. Bukti empiris yang dia alami, dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan sudah banyak membuktikan.

            Dalam hal profesi, dia merupakan salah satu pejabat di tingkat manajerial pada salah satu lembaga keuangan. Luluk sering mengarahkan stafnya untuk mengikuti pola-polanya spiritual yang dia buktikan kemujarabannya itu sebelum, selama, dan usai menjalankan aktivitas kantor. 

            Tak ayal, kultural religius merembes berangsur-angsur  ke dalam lingkungan kantor tempat nya bekerja. Sebagaimana yang juga terjadi di internal keluarganya. (was/cl/hdi)

SUMBER: JP-RJ Sabtu 9 September 2017   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar